Aula Harapan Abadi di Kantor Urusan Pernikahan (KUP) Kecamatan Asri Sentosa adalah tempat di mana romantisme menemui ajalnya, digantikan oleh birokrasi. Dindingnya berwarna krem kusam, warna yang seolah dipilih agar tidak menyinggung siapapun dan tidak menginspirasi siapa pun. Kursi-kursi plastik yang disambung menjadi satu barisan terasa dingin dan kaku, memaksa semua pasangan calon pengantin duduk dengan postur canggung yang sama. Di pojok ruangan, sebuah tanaman plastik yang daunnya sudah agak lunglai menyerah pada debu, sementara aroma kamper dari toilet bercampur dengan pengharum ruangan beraroma pinus yang samar-samar.
Di tengah lautan kecanggungan itu, duduklah Bima dan Ratih.
Bima, seorang desainer grafis, tidak sedang merenungkan janji
suci sehidup semati. Pikirannya sedang sibuk melakukan kalkulasi akrobatik:
apakah pembayaran dari klien agensi iklan akan cair sebelum tanggal jatuh tempo
DP sewa rumah? Matanya menatap kosong ke depan, tapi otaknya sedang menggambar
diagram alur keuangan yang lebih rumit dari denah gedung KUP ini.
Di sebelahnya, Ratih, seorang manajer media sosial yang jeli,
sedang memindai ruangan dengan analisis setajam algoritma. Ia memperhatikan
pasangan di depannya yang berbisik-bisik, pasangan di sampingnya yang sama-sama
menunduk menatap layar ponsel, dan ekspresi Bapak-Bapak berseragam di depan.
Pikirannya bercabang antara presentasi Bimbingan Perkawinan (Bimwin) ini dan
tekanan tak kasat mata dari calon ibu mertuanya yang sudah mulai mengirimkan
gambar-gambar kebaya resepsi via WhatsApp.
Pintu di depan terbuka, dan masuklah Bapak Suryo, seorang pria
akhir 40-an dengan kemeja batik yang sedikit terlalu ketat di bagian perut. Ia
membawa laptop dan aura semangat yang terasa berlebihan untuk sebuah ruangan
yang energinya setara dengan ruang tunggu puskesmas. Bapak Suryo adalah
perwujudan dari birokrasi yang tulus; ia benar-benar percaya bahwa sesi
bimbingan yang ia pimpin adalah benteng pertahanan terakhir bangsa melawan
gelombang perceraian yang mengkhawatirkan.
“Selamat pagi, calon-calon pilar bangsa!” sapanya dengan suara
yang bergema. Beberapa orang bergumam pelan. “Hari ini, kita akan membekali
diri dengan fondasi terkuat untuk membangun bahtera rumah tangga. Karena
keluarga yang kuat adalah cikal bakal negara yang kokoh!”.
Bima melirik Ratih. Ratih membalas dengan kedipan mata yang
sangat cepat, bahasa sandi mereka untuk "Ya Tuhan, kita akan terjebak di
sini selamanya." Bapak Suryo adalah representasi sempurna dari kesenjangan
generasi. Ia datang dengan metode analog yang menurutnya revolusioner,
sementara audiensnya adalah generasi yang berkomunikasi lewat meme dan ironi.
Baginya, ini adalah misi suci. Bagi Bima dan Ratih, ini adalah satu lagi
centang di daftar administrasi pernikahan, persis di antara tes kesehatan dan
memesan katering.
Setelah satu jam presentasi PowerPoint yang penuh dengan bullet points dan diagram Venn tentang
"Lima Pilar Keluarga Harmonis," Bapak Suryo mencapai puncak acaranya.
Wajahnya berseri-seri seolah akan mengumumkan penemuan obat untuk segala
penyakit.
“Dan sekarang, Bapak-Ibu sekalian… metode pamungkas!” katanya
dengan nada dramatis. “Sebuah inovasi untuk menanamkan nilai-nilai luhur ini
langsung ke dalam memori otot dan alam bawah sadar kita! Kami menyebutnya…
Tepuk Keselarasan Universal!”
Sebuah keheningan canggung menyelimuti ruangan. Bapak Suryo, tak
terpengaruh, melanjutkan penjelasannya. Ia menyebutnya sebagai teknik neuro-linguistic programming sederhana
yang akan memperkuat ingatan tentang pilar-pilar pernikahan, sehingga mudah
diingat bahkan di tengah badai rumah tangga.
“Ayo, semua berdiri!” perintahnya.
Dengan enggan, Bima, Ratih, dan pasangan-pasangan lainnya
bangkit. Rasanya seperti kembali ke upacara bendera hari Senin.
Bapak Suryo memberi contoh dengan antusiasme seorang dirigen
orkestra. “Ikuti saya! Siap?”
“BERPASANGAN!” teriaknya, diikuti tiga tepukan tangan. “PROK,
PROK, PROK!”
Bima ikut bertepuk dengan setengah hati. Berpasangan, batinnya. Seperti
cicilan motor dan tagihan internet, selalu datang berpasangan.
“JANJI KOKOH!” seru Bapak Suryo. “PROK, PROK, PROK!”
Para peserta mengikuti dengan suara yang lebih mirip gumaman
massal. Janji kokoh, pikir Bima
sambil bertepuk. Seperti klausul di surat
perjanjian kartu kredit yang menyatakan bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Itu
baru janji yang benar-benar kokoh dan mengikat.
“SALING CINTA! SALING HORMAT! SALING JAGA!”
Ratih ikut meneriakkan liriknya, tapi pikirannya melayang. Saling jaga… perasaan, atau saling jaga
password Netflix biar nggak dipakai teman-temannya?
“SALING RIDHO!”
Ridho kalau dia nanti
lupa lagi naruh handuk basah di atas kasur,
batin Ratih getir.
Ritual itu adalah pertunjukan absurditas yang sempurna. Di satu
sisi, ada konsep-konsep agung tentang komitmen seumur hidup yang diambil dari
kitab suci. Di sisi lain, ada kenyataan remeh-temeh yang mengisi kepala setiap
pasangan: cicilan, kebiasaan buruk, dan ekspektasi sosial. Tepuk tangan ini,
yang seharusnya menyatukan mereka dalam harmoni, justru menyoroti jurang antara
idealisme dan realitas. Ini adalah ilusi keharmonisan semu yang dipentaskan di
bawah lampu neon.
Di barisan belakang, seorang peserta yang lebih muda dan lebih
paham dunia digital, merekam seluruh ritual itu dengan ponselnya. Tanpa pikir
panjang, ia mengunggahnya ke sebuah platform video pendek dengan takarir:
“Bimwin KUP zaman now, berasa lagi LDKS Pramuka Siaga 😂
#relationshipgoals #kocak.”
Video itu, seperti api di padang ilalang digital, meledak.
Fase pertama adalah ejekan massal. Ribuan komentar menyebutnya
"cringe," "lucu tapi kasihan," dan "metode jitu menuju
perceraian." Video itu menjadi meme instan. Fase kedua adalah remix. Seorang DJ iseng mengambil sampel
suara Bapak Suryo yang berteriak “BERPASANGAN! PROK, PROK, PROK!” dan
mengubahnya menjadi lagu house music
yang menghentak. Dalam semalam, kelima pilar keluarga sakinah berubah menjadi
lagu wajib di kelab-kelab malam. Fase ketiga adalah parodi. Para kreator konten
berlomba-lomba membuat versi mereka sendiri. Muncul "Tepuk Cicilan" (BAYAR TAGIHAN! PROK, PROK, PROK!),
"Tepuk Skripsi" (REVISI LAGI!
PROK, PROK, PROK!), dan yang paling populer, "Tepuk Dighosting" (DIBACA DOANG! PROK, PROK, PROK!).
Fase keempat, dan yang paling ironis, adalah penyerapan oleh
media arus utama. Bapak Suryo, sang pencipta yang tulus, diundang ke acara
bincang-bincang pagi di televisi nasional. Ia diperkenalkan sebagai
"Inovator Bimbingan Pranikah yang Viral." Dengan wajah polos, ia
menjelaskan filosofi mendalam di balik setiap tepukan kepada pembawa acara yang
berusaha keras menahan tawa. Bapak Suryo dan instansinya menganggap keviralan
ini sebagai sebuah kesuksesan besar. Pesan mereka telah menjangkau jutaan
orang! Mereka tidak sadar bahwa pesan itu diterima sebagai lelucon. Internet
telah menelanjangi niat baik mereka, mengubah sebuah metode edukasi yang sakral
menjadi hiburan semata. Makna aslinya hilang, digantikan oleh ironi.
Beberapa minggu kemudian, Bima dan Ratih telah resmi menikah dan
tinggal di rumah kontrakan mereka yang mungil. Pilar-pilar pernikahan yang
abstrak kini diuji oleh konflik yang sangat konkret. Pemicunya sepele: uang.
Ratih, yang terpengaruh oleh estetika media sosial, ingin membeli satu set
panci premium berwarna pastel yang harganya setara dengan sewa rumah sebulan.
Sementara itu, Bima ingin menggunakan dana lebih mereka untuk membeli velg baru
untuk mobil bekasnya.
“Panci itu investasi, Bi! Biar aku semangat masak,” kata Ratih,
argumennya terdengar logis di kepalanya.
“Velg juga investasi! Biar mobil kita kelihatan lebih layak,
nggak kayak mobil capek,” balas Bima, sama yakinnya.
Perdebatan itu memanas, dari panci dan velg merembet ke masalah
yang lebih dalam: prioritas keuangan, egoisme, dan harapan yang tak terucap.
Ini adalah jenis konflik yang disebabkan oleh faktor ekonomi, penyebab utama
perceraian yang tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan tepuk tangan.
Di puncak pertengkaran, di tengah dapur mereka yang sempit,
Bima, dalam momen putus asa yang campur aduk dengan ironi, mencoba menerapkan
ilmu dari KUP.
“Kita… kita kan harusnya… MUSYAWARAH!” teriaknya, lalu secara
refleks menepukkan tangannya tiga kali dengan canggung. “PROK, PROK, PROK!”
Hening.
Efeknya sungguh di luar dugaan. Alih-alih meredakan ketegangan,
tindakan itu justru menjadi puncak komedi yang absurd. Ratih menatapnya,
matanya melotot tak percaya. Wajahnya yang semula merah karena marah perlahan
berubah. Sudut bibirnya berkedut, dan sedetik kemudian, ia meledak dalam tawa.
Tawa yang begitu keras sampai ia harus memegangi perutnya.
Bima, melihat reaksi Ratih, ikut tertawa. Mereka tertawa bukan
karena masalahnya selesai, tetapi karena betapa tidak berdaya dan konyolnya
solusi yang pernah diajarkan kepada mereka. Tepuk tangan itu, simbol kosong
yang dipaksakan, gagal total dalam menghadapi kenyataan. Namun, justru
kegagalannya lah yang menyelamatkan mereka. Tawa bersama atas absurditas
situasi itu menjadi jembatan yang menghubungkan mereka kembali.
Setelah tawa mereda, mereka duduk di lantai dapur yang dingin.
Lelah. Untuk pertama kalinya, mereka berbicara, bukan berdebat. Tanpa yel-yel,
tanpa tepuk tangan. Mereka bicara tentang ketakutan masing-masing. Ratih takut
tidak bisa membangun rumah yang "layak" seperti yang ia lihat di
Instagram. Bima takut gagal secara finansial, takut tidak bisa menjadi kepala
keluarga yang baik.
Mereka berkompromi. Panci bisa menunggu promo akhir tahun. Velg
bisa dicicil nanti kalau ada bonus. Komunikasi yang sebenarnya, bukan yang
performatif, akhirnya menyelesaikan masalah.
Sejak hari itu, "Tepuk Keselarasan Universal" menjadi
lelucon internal mereka. Sebuah sandi rahasia untuk mengingatkan satu sama lain
agar tidak terlalu serius. Saat Bima lupa membuang sampah, Ratih akan berkata,
“Saling jaga… kebersihan! Prok, prok, prok!” dan mereka akan tertawa. Ritual
yang gagal itu telah mereka reklamasi, diubah dari formula birokrasi menjadi
simbol unik dari hubungan mereka. Nilainya bukan lagi pada makna yang
dipaksakan dari luar, tetapi pada makna personal yang mereka ciptakan bersama.
Cerita ini ditutup beberapa bulan kemudian. Bima dan Ratih duduk
di sebuah warung kopi pinggir jalan, laptop terbuka di antara mereka. Bukan
pemandangan romantis, melainkan pemandangan yang nyata: mereka sedang menatap
spreadsheet anggaran bulanan.
Bima menunjuk sebuah angka di layar. “Nah, pos pengeluaran tak
terduga kita aman bulan ini.”
Ratih tersenyum lega.
Bima menatapnya, lalu dengan nada jenaka ia berbisik, “Saling
itung…,” ia berhenti sejenak, lalu menepukkan tangannya tiga kali dengan pelan
di atas meja. “Prok, prok, prok.”

Komentar
Posting Komentar