Bagi Dodi, mahasiswa tingkat akhir yang skripsinya lebih banyak revisi daripada isi, panggilan aksi demonstrasi datang bukan seperti bisikan nurani, melainkan notifikasi grup WhatsApp yang lebih mendesak dari tagihan pinjol. Isinya singkat: "Besok, kita geruduk Gedung Perwakilan Semesta (GPS)! Dress code: Almamater dan Amarah!"
Namun, di kantin
kampus yang riuh oleh suara sendok beradu dengan mangkuk mi instan, amarah
adalah komoditas terakhir yang dipikirkan. Yang pertama dan utama adalah
konten.
"Gue udah siapin
poster," kata Bimo sambil menyodorkan ponselnya. Di layar, terpampang
desain kanvas digital bertuliskan, "Janjimu Lebih Manis dari Kopi Saset,
Tapi Pahitnya Melebihi Realita".
"Terlalu curhat,
Bim," sahut Dodi, "Nanti dikira demo nuntut mantan balikan."
"Justru itu
kekuatannya!" Bimo berapi-api. "Politik itu personal, Dod. Patah hati
karena janji palsu politisi itu sama sakitnya kayak di-ghosting gebetan."
Diskusi itu dengan
cepat berubah menjadi ajang kompetisi kreatif. Mereka tidak sedang merumuskan
tuntutan politik yang koheren; mereka sedang melakukan kurasi untuk galeri meme
berjalan. Ide-ide dilemparkan seperti granat asap di medan perang digital, mulai
dari "Cukup Cintaku yang Kandas, Keadilan Jangan" hingga yang lebih
pragmatis, "Harga Skincare Mahal, Masak Keadilan Ikut Mahal?".
Kesuksesan sebuah demonstrasi tidak lagi diukur dari undang-undang yang
berhasil direvisi, melainkan dari seberapa besar potensi viralnya.
Di depan gerbang
megah Gedung Perwakilan Semesta, suasana lebih mirip festival musik daripada
unjuk rasa. Aroma keringat bercampur dengan wangi es teh jumbo yang dijajakan
pedagang kaki lima. Orator di atas mobil komando berteriak tentang tirani,
tetapi suaranya sering kali tenggelam oleh yel-yel massa yang mengadaptasi lagu
K-pop.
Di seberang lautan
manusia, barisan aparat berdiri kaku seperti maneken. Di antara mereka,
Komisaris Jenderal Purnomo mengamati pemandangan itu dari balik helmnya yang
terasa menyusut di bawah terik matahari. Ia pusing. Dalam dua puluh tahun
karirnya, ia sudah menghadapi segala jenis demonstran. Tapi yang ini? Ia
memicingkan mata, membaca salah satu spanduk: "Maaf Oppa, Kali Ini Bukan
Kamu". Baginya, ini bukan dialog politik; ini adalah sebuah anomali
semiotika. Protes yang seharusnya serius telah berubah menjadi kumpulan
referensi budaya pop yang ironis dan tersirat.
Puncak aksi datang
bukan dari orasi yang membakar semangat, melainkan dari sebuah insiden kecil.
Rina, mahasiswi junior yang menjadi alasan utama Dodi ikut serta, sedang
berusaha membuat konten TikTok di barisan terdepan. Dengan latar belakang
barikade polisi, ia melakukan tarian yang sedang tren. Untuk mendapatkan sudut
kamera yang lebih dramatis, ia sedikit bersandar pada sebuah pagar barikade
temporer. Pagar itu, yang dari awal sudah dipasang seadanya, ambruk dengan
bunyi "klontang!" yang menyedihkan.
Hening sejenak.
Bagi Purnomo, yang
mengamati dari kejauhan, bunyi "klontang" itu terdengar seperti
simfoni kemenangan. Inilah dia. Momen yang ditunggunya. Ia buru-buru membuka
buku saku Prosedur Tetap (Protap) Pengendalian Massa. Jarinya yang gemetar
berhenti di halaman yang tepat: "Pasal 3, Ayat 2b: Upaya perusakan
fasilitas pengamanan negara." Insiden kecil dan tidak disengaja itu, di
matanya, adalah sebuah tindakan anarkistis yang mengancam keamanan nasional.
Ia kembali meraih
megafon, suaranya kini mantap dan berwibawa. "Perhatian! Karena massa aksi
telah melakukan tindakan perusakan," ia berhenti sejenak untuk efek
dramatis, "maka aksi ini kami nyatakan sudah tidak kondusif!".
Atas komandonya,
kendaraan water cannon menderu. Namun, yang menyembur dari moncongnya bukanlah
air comberan. Akibat kesalahan logistik—seseorang salah mengisi tangki—yang
keluar adalah semprotan kabut halus beraroma mawar, sisa dari acara penyiraman
taman kota pagi tadi. Para demonstran yang basah kuyup bukan merasa
terintimidasi, melainkan bingung. Mereka kini wangi seperti baru keluar dari
spa.
Purnomo, yang melihat
pemandangan sureal itu, berteriak ke radionya, "Lanjut ke fase dua!
Tembakkan gas!"
Selongsong-selongsong
gas air mata melesat ke udara. Asap tebal mulai mengepul. Namun, sekali lagi,
birokrasi menunjukkan sisi humor gelapnya. Stok gas air mata yang digunakan
adalah sisa pengadaan lima tahun lalu yang sudah kedaluwarsa. Alih-alih melepaskan
agen kimia yang melumpuhkan, gas itu mengeluarkan bau menyengat seperti bawang
gosong. Asap itu memang membuat mata perih dan berair, tapi efek utamanya
adalah memicu tawa histeris. Kombinasi disemprot air mawar dan dipaksa menangis
oleh bau bawang goreng adalah pengalaman yang terlalu absurd untuk ditanggapi
dengan amarah atau ketakutan.
Keesokan harinya, dua
narasi yang kontras muncul ke permukaan. Yang pertama datang dari konferensi
pers kepolisian. Seorang juru bicara berwajah datar memuji "tindakan
persuasif dan terukur" yang berhasil "memulihkan kondusivitas".
Ketika ditanya mengenai metode pembubaran yang tidak biasa, ia dengan bangga
menjelaskan bahwa itu adalah bagian dari pendekatan baru yang inovatif.
"Kami menggunakan cairan pembubaran massa beraroma terapi untuk memberikan
efek menenangkan," katanya tanpa berkedip.
Narasi kedua muncul
di dunia maya. Tuntutan politik para mahasiswa—tentang undang-undang
kontroversial dan keadilan—lenyap tak berbekas. Yang menjadi trending topic adalah sebuah meme. Foto
itu menangkap momen puncak kekacauan: Dodi, basah kuyup oleh air mawar, air
mata mengalir deras dari matanya yang teriritasi bau bawang, menatap kosong ke
depan sambil memegang posternya yang bertema patah hati. Di bawah foto itu,
seseorang menambahkan tulisan: "Ketika sadar dia cuma manfaatin
kamu."
Dalam semalam, Dodi
menjadi sensasi internet, representasi universal dari kekecewaan, sama sekali
terlepas dari konteks demonstrasi. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan langsung
dari Rina. "Kak Dodi viral! Keren!" Dodi menatap layar ponselnya, lalu
ke cermin. Ia tidak tahu harus merasa menang atau kalah. Yang ia tahu, di jalan
raya demokrasi yang absurd ini, terkadang satu-satunya hal yang bisa kau
menangkan bukanlah keadilan, melainkan lima belas menit ketenaran yang fana.
Komentar
Posting Komentar