Di ruang konferensi pers
di Kementerian Keuangan—atau lebih tepatnya, Kementerian Peti Besi—memiliki
suhu yang diatur sedemikian rupa sehingga lebih cocok untuk mengawetkan
spesimen langka ketimbang manusia. Udara terasa tipis, dingin, dan steril. Para
jurnalis yang duduk di kursi-kursi minimalis tampak seperti patung-patung lilin
yang mengenakan batik; tegang, diam, dan seolah takut embusan napas mereka akan
mengganggu keseimbangan fiskal negara.
Di tengah panggung, di
balik podium yang terbuat dari material yang tampak seperti harapan yang
membeku, berdirilah Ibu Hartati Prawiro, Sang Menteri Peti Besi. Wanita berusia
akhir 50-an itu memiliki postur tubuh yang begitu sempurna hingga orang curiga
tulang punggungnya diganti dengan baja struktural. Pakaiannya berwarna abu-abu
monokrom, tanpa satu pun lipatan yang tidak disengaja. Kacamata berbingkai
tipis bertengger di hidungnya, dan lensanya seolah tidak berfungsi untuk
memperbesar penglihatannya, melainkan untuk memperbesar kekecewaannya pada
dunia yang penuh dengan inefisiensi anggaran. Ibu Hartati tidak berbicara; ia mengumumkan. Suaranya datar, tenang, dan
tanpa emosi, sebuah intonasi yang mampu membuat laporan surplus terdengar
seperti berita duka. Baginya, dunia bukanlah kumpulan manusia, melainkan
spreadsheet raksasa yang berisi persentase, proyeksi pertumbuhan, dan tingkat
penyerapan belanja.
Dua ajudan muda yang
tampak pucat berdiri mengapitnya. Meskipun ruangan sedingin kutub, dahi mereka
basah oleh keringat yang mereka seka secara berkala dengan gerakan panik. Di
belakang Ibu Hartati, sebuah layar raksasa menampilkan serangkaian grafik dan
diagram yang begitu rumit hingga bisa membuat seorang profesor ekonometrika
mempertanyakan pilihan kariernya.
"Selamat
siang," ujar Ibu Hartati, dan kata-katanya memotong keheningan seperti
pisau bedah. "Data tidak berbohong."
Ini adalah sebuah
manuver politik yang diperhitungkan dengan cermat, bukan sekadar tindakan
transparansi. Dengan menggelar konferensi pers alih-alih rapat internal, ia
secara sengaja melemparkan isu ini ke arena publik, menggunakan tekanan media
sebagai senjata. Data yang disajikan, meskipun akurat, sengaja dikeluarkan dari
konteksnya untuk membangun narasi tunggal: para kepala daerah itu tidak
kompeten.
Layar di belakangnya
berganti, menampilkan peta nusantara dengan beberapa provinsi ditandai dengan
warna merah menyala, seolah terjangkit demam fiskal. "Per kuartal ketiga
tahun berjalan," lanjutnya, "kami mengidentifikasi adanya kuantum signifikan
dari alokasi anggaran daerah—uang rakyat—yang berada dalam kondisi hibernasi
berkepanjangan.". Ia berhenti sejenak, membiarkan frasa "hibernasi
berkepanjangan" menggantung di udara dingin itu, membuatnya terdengar
seperti penyakit kronis.
"Secara
spesifik," katanya sambil menunjuk ke peta dengan pointer laser yang
presisi, "provinsi makmur Barat
Daya dan kota metropolitan Metropolitan
Raya menunjukkan gejala kelambanan belanja yang kronis. Ini bukan
kehati-hatian; ini adalah kelumpuhan fiskal. Ini adalah pemborosan kesempatan.
Uang ini seharusnya berputar, membangun jalan, sekolah, rumah sakit.
Sebaliknya, ia hanya duduk manis di rekening bank, menghasilkan bunga untuk
perbankan, bukan kesejahteraan untuk masyarakat. Ini adalah uang rakyat, bukan
rekening tabungan untuk para birokrat.".
Di layar, muncul
sebuah diagram batang yang menakutkan, menunjukkan korelasi terbalik antara
kebahagiaan regional dengan likuiditas fiskal. Di sebelahnya, sebuah diagram
lingkaran di mana setiap irisannya diberi label "Potensi Hasil Sub-Optimal".
Ini adalah visualisasi dari sebuah pandangan dunia teknokratis yang murni, yang
melihat uang yang tidak dibelanjakan sebagai sebuah kegagalan matematis, sebuah
penyimpangan dari model ekonomi yang ideal. Pandangan ini sama sekali
mengabaikan realitas pemerintahan daerah yang berantakan dan manusiawi:
peraturan yang tumpang tindih, politik lokal yang pelik, dan yang paling utama,
ketakutan akut para pejabat untuk masuk penjara karena salah prosedur.
Para jurnalis, yang
tadinya membeku, seketika tersentak hidup. Suara ketikan laptop terdengar
seperti hujan deras di atap seng. Ibu Hartati tidak menerima pertanyaan. Ia
hanya menyelesaikan pernyataannya, memberikan anggukan singkat yang tajam, lalu
berbalik dan melangkah keluar ruangan. Ia meninggalkan kekosongan udara dingin,
kepanikan, dan sebuah polemik nasional yang baru saja ia nyalakan dengan satu
korek api data.
Jauh dari menara
gading ibu kota yang ber-AC, pemandangan yang sama sekali berbeda tersaji. Di
provinsi Barat Daya, di bawah naungan pohon beringin raksasa yang akarnya
menjuntai seperti janggut seorang resi, duduklah Bapak Ubed Mulyeni, sang
Gubernur. Ia tidak duduk di kursi kulit empuk di kantornya, melainkan bersila
di atas tikar pandan, dikelilingi oleh warga desa dan segerombolan wartawan
yang berhasil memburunya hingga ke pelosok. Ia mengenakan ikat kepala dari
tenun ikat dan kemeja linen sederhana yang warnanya menyatu dengan tanah.
Bapak Ubed adalah
seorang pria yang senyumnya seolah dimulai dari satu telinga dan berakhir di
telinga yang lain. Ia bergerak dengan keanggunan santai seseorang yang
sepenuhnya nyaman dengan dirinya sendiri dan tanahnya. Ia adalah seorang
maestro panggung politik, seorang dalang yang mampu mengubah tuduhan fiskal
yang rumit menjadi dongeng sederhana tentang kearifan desa.
Seorang wartawan muda
yang bersemangat menyodorkan mikrofonnya. "Bapak Gubernur, bagaimana
tanggapan Bapak mengenai pernyataan Menteri Hartati tentang triliunan dana yang
'tertidur' di bank?"
Bapak Ubed tertawa,
tawa yang renyah dan menggema. Ia tidak berdiri. Ia justru memungut sebuah buah
kelapa yang jatuh di dekatnya, menjadikannya alat peraga dadakan. "Ibu
yang baik di ibu kota itu," mulainya dengan nada kebapakan, "dengan
gedung-gedung tingginya dan ruangan-ruangan dinginnya, beliau melihat angka.
Saya di sini melihat musim panen. Saya melihat musim hujan yang mungkin datang
lebih awal, atau kemarau yang mungkin datang lebih panjang."
Ini adalah sebuah
pertunjukan keaslian yang strategis. Ikat kepalanya, latar pedesaannya,
kearifan lokalnya—semua adalah alat ampuh untuk melawan elitisme teknokratis
yang dingin dan berjarak dari pemerintah pusat. Ia tidak melawan data dengan
data; ia mengubah medan pertempuran dari spreadsheet Ibu Hartati ke halaman
desanya.
"Beliau menyebut
uang kita 'tertidur'. Saya menyebutnya berjaga-jaga,"
lanjutnya sambil menepuk-nepuk kelapa di tangannya. "Begini, Nak. Apakah
kalian memakan semua benih padi dalam satu musim? Tentu tidak, kan? Sebagian
disimpan untuk musim tanam berikutnya. Uang ini bukan untuk proyek-proyek
mercusuar yang hanya bagus di atas kertas. Uang ini untuk saat atap sekolah
ambruk karena angin, atau saat jembatan desa hanyut terbawa banjir. Ini adalah
jaring pengaman rakyat, bukan celengan pemerintah pusat yang bisa dipecahkan
sesuka hati hanya demi mengejar target serapan.".
Ia memenangkan
penontonnya bukan dengan menyangkal data, tetapi dengan membuat data itu tampak
tidak relevan dan tidak menyentuh "kehidupan nyata" rakyat. Di balik
pertunjukan komedi ini, tersembunyi sebuah kebenaran sistemik yang suram. Bapak
Ubed tidak bisa secara terbuka berkata, "Kami takut membelanjakan uang ini
karena peraturannya adalah mimpi buruk dan kami bisa masuk penjara jika salah
langkah.". Ketakutan yang sah ini, ketakutan akan kriminalisasi kebijakan,
adalah hantu yang menghantui setiap kantor pemerintahan daerah. Jadi, alih-alih
mengakui ketakutan itu, ia menciptakan narasi mulia tentang "menabung
untuk hari hujan". Ia adalah seorang komedian sekaligus tokoh tragis yang
terperangkap dalam sistem yang disfungsional.
Kemudian, pertunjukan
puncaknya dimulai. "Anggaran kita ini seperti kelapa," katanya dengan
mata berbinar. Dengan beberapa pukulan terampil menggunakan batu, ia memecahkan
kelapa itu. "Lihat? Dagingnya yang tebal ini,"—ia menunjuk ke daging
kelapa putih—"ini untuk program-program yang langsung dirasakan rakyat.
Airnya,"—ia menuangkan air kelapa ke sebuah gelas bambu—"ini dana
darurat, untuk saat-saat tak terduga. Dan sabutnya yang tebal ini,"—ia
mengangkat sabut kelapa yang berserabut—"ini untuk birokrasi, untuk
menjaga agar semuanya berjalan."
Penjelasan itu secara
logika sama sekali tidak masuk akal, tetapi sebagai teater politik, itu adalah
sebuah mahakarya. Para wartawan terpesona. Mereka sibuk mencatat dan mengambil
foto. Di tengah kebingungan mereka, mereka lupa bertanya detail teknis tentang
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA). Bapak Ubed Mulyeni telah memenangkan
hari itu, bukan dengan angka, tetapi dengan sebuah kelapa dan seulas senyum.
Konflik abstrak antara
angka dan analogi kini menjadi konflik fisik. Tiga hari setelah pertunjukan
kelapa, sebuah tim auditor dari ibu kota tiba di Barat Daya. Mereka adalah tiga
pemuda yang tampak serius, bersenjatakan laptop, map-map tebal, dan keyakinan
yang tak tergoyahkan pada supremasi peraturan. Tim ini dipimpin oleh seorang
pria bernama Pak Budi, yang ciri khas utamanya adalah ketiadaan selera humor
yang mutlak. Mereka adalah perwujudan fisik dari pandangan dunia Ibu Hartati.
Alih-alih dibawa ke
ruang rapat yang steril, mereka justru disambut dengan "upacara
penyambutan budaya". Mereka dipaksa mengenakan pakaian adat yang agak
kesempitan, disuguhi serangkaian hidangan lokal yang membingungkan (beberapa di
antaranya masih bergerak), dan harus mendengarkan pidato panjang dari seorang
pejabat eselon tiga yang 90 persen isinya adalah metafora tentang sungai dan
gunung.
Upaya mereka untuk
mendapatkan jawaban langsung mengenai dana yang tidak terpakai terus-menerus
digagalkan oleh labirin birokrasi yang absurd. Ini adalah dramatisasi nyata
dari "kerumitan birokrasi" yang menjadi akar masalah. Ketika mereka
meminta untuk melihat rencana pembangunan rumah sakit baru, mereka malah diajak
"kunjungan lapangan" yang ternyata adalah perjalanan wisata ke sebuah
air terjun yang indah. "Kita harus memahami dulu sumber daya air kita,
Pak, sebelum membangun," kata pejabat pendamping dengan wajah serius.
Ketika mereka dengan
tegas meminta dokumen pengadaan barang dan jasa, mereka malah disodori proposal
setebal bantal untuk "Lomba Cipta Slogan Provinsi Barat Daya". Hadiah
utamanya adalah seekor kambing etawa dan sertifikat.
Puncak dari komedi ini
terjadi dalam sebuah pertemuan dengan Kepala Badan Pengelola Anggaran Daerah,
seorang pria tua yang telah selamat dari lima kali pergantian gubernur dengan
menguasai seni memberi penjelasan yang tidak bisa dipahami. Dengan bangga, ia
membentangkan sebuah bagan alur di dinding. "Ini, Bapak-bapak
sekalian," katanya, "adalah Peta Alur Pencairan Anggaran kami."
Bagan itu bukan
sekadar bagan. Itu adalah sebuah monster. Ukurannya menutupi seluruh dinding,
sebuah jalinan kotak, panah, lingkaran, dan akronim yang begitu rumit dan
saling tumpang tindih hingga lebih mirip diagram bintang yang sedang sekarat
atau sirkuit otak cumi-cumi yang mengalami gangguan kecemasan. Ada ratusan
langkah, puluhan jalur persetujuan, dan beberapa putaran yang kembali ke titik
awal, diberi label "Untuk Verifikasi Ulang Sinergitas Lintas
Sektoral".
Pak Budi, sang ketua
tim auditor, berdiri terpaku di depannya. Matanya menelusuri satu jalur panah
yang berputar-putar sebanyak tujuh kali sebelum berakhir di sebuah kotak
bertuliskan "Menunggu Arahan Lanjutan". Matanya mulai berkedut. Ia
mencoba memahami mengapa proposal pembelian komputer harus melalui validasi
dari Dinas Perikanan dan Kelautan. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Bagan itu seolah hidup, menertawakannya dengan kerumitannya yang angkuh.
Akhirnya, dengan sebuah erangan pelan, lutut Pak Budi lemas, dan ia pun
pingsan.
Bagan alur yang absurd
itu bukanlah sekadar tanda ketidakefisienan; ia adalah sebuah mekanisme
pertahanan diri. Sebuah sistem yang begitu rumit membuatnya mustahil untuk
menyalahkan satu orang pun atas kelambanan yang terjadi. Jika membelanjakan
uang itu berisiko, maka tindakan paling aman adalah tidak membelanjakannya sama
sekali. Birokrasi telah berevolusi untuk membuat proses belanja menjadi sesulit
mungkin, sebuah sistem yang dirancang untuk mencegah tindakan, bukan
memfasilitasinya. Para pejabat daerah bukanlah orang malas atau bodoh; mereka
adalah aktor rasional dalam sebuah sistem yang irasional. Mereka telah
beradaptasi sepenuhnya dengan disfungsi ini; itu telah menjadi hal yang normal
bagi mereka. Para auditor, sebagai orang luar, melihat absurditasnya. Tetapi
para orang dalam sudah berenang di dalamnya begitu lama sehingga mereka tidak
lagi menyadari airnya.
Sementara para
teknokrat dan politisi sibuk dengan drama mereka, kehidupan terus berjalan
seperti biasa. Di sebuah sudut Metropolitan Raya yang padat, di sebuah warung
kopi sederhana, Pak Surya sedang mengeluh. Bukan tentang triliunan rupiah,
tetapi tentang sebuah lubang besar di jalan tepat di depan warungnya. Setiap
kali sebuah mobil melintas, lubang itu menyemburkan air comberan ke teras
warungnya, membuat para pelanggannya marah.
Pak Surya adalah
representasi rakyat jelata—sinis, lelah dengan keadaan, tetapi memiliki selera
humor yang tajam. Di televisi kecil yang tergantung di sudut warungnya, drama
besar itu diputar tanpa henti.
Layar TV menampilkan
montase perseteruan yang semakin memanas. Acara bincang-bincang yang panas di
mana seorang analis pro-Hartati dan seorang pengamat pro-Ubed saling
meneriakkan jargon ekonomi. Berita yang menampilkan layar terbelah, di satu
sisi wajah kaku sang Menteri, di sisi lain senyum lebar sang Gubernur.
Judul-judul koran yang semakin hari semakin sensasional: "PERANG
DOMPET!" atau "TRILIUNAN DISANDERA!"
Isu pemerintahan yang
serius dan kompleks ini telah dilucuti dari semua nuansanya oleh ekosistem
media dan media sosial, yang haus akan konflik, kesederhanaan, dan hiburan.
Kegagalan tata kelola telah diubah menjadi bentrokan kepribadian, sebuah
pertandingan olahraga bagi para pecandu politik, dan bahan baku lelucon.
Pak Surya mengambil
ponselnya dan menggulir linimasa. Di sanalah pengadilan opini publik yang
sesungguhnya berlangsung. Ia terkekeh melihat serangkaian meme yang dibuat oleh
warganet.. Ada gambar Ibu Hartati yang diedit menjadi Ratu Jahat dari kisah
Putri Salju, bertanya pada cermin ajaibnya, "Cermin, cermin di dinding,
SiLPA siapakah yang paling tinggi?" Ada pula gambar Bapak Ubed Mulyeni
yang diedit menjadi Master Jedi, lengkap dengan jubah dan lightsaber, dengan
kutipan, "Nafsu untuk belanja, harus kau tahan." Sebuah video TikTok
viral menunjukkan seorang pemuda menari-nari di atas tumpukan uang palsu dengan
tulisan, "Gue dengan APBD Barat Daya."
Seorang pelanggan,
yang baru saja kecipratan air kotor, menggerutu pada Pak Surya. "Pak, ini
lubang kapan dibenerin, sih? Udah lapor RT belum?"
Pak Surya hanya
menunjuk ke arah televisi dengan dagunya. Di sana, para pakar masih berdebat
sengit tentang triliunan. "Mereka lagi sibuk," kata Pak Surya dengan
senyum masam. "Uang besar, masalah besar. Lubang kecil kita mah harus
sabar."
Lubang itu adalah
metafora utama. Sebuah masalah kecil yang nyata, bisa diperbaiki, dan hanya
membutuhkan sebagian kecil dari triliunan yang "tertidur" itu. Namun,
lubang itu tetap menganga karena sistem sedang sibuk dengan dramanya sendiri
yang megah dan abstrak. Respons publik—sinisme dan meme—adalah mekanisme
pertahanan diri atas ketidakberdayaan mereka. Mereka tahu triliunan itu adalah
"uang mereka", tetapi mereka juga tahu uang itu tidak akan pernah
sampai ke jalan di depan warung mereka. Ini adalah cerminan dari terkikisnya
kontrak sosial dan ketidakpercayaan publik yang sudah mendarah daging.
Debat anggaran yang
hebat itu tidak berakhir dengan sebuah ledakan, tetapi dengan sebuah desisan
pelan. Seperti yang sering terjadi di negeri ini, perhatian publik bersifat
sementara. Sebuah skandal baru yang lebih menarik muncul—seorang politisi
selebritas tertangkap dalam kasus korupsi yang melibatkan impor keju mewah dari
Eropa—dan seketika, media dan publik melupakan dana yang tertidur. Isu tata
kelola diperlakukan seperti tren musiman, berkobar lalu padam tanpa resolusi
mendasar.
Beberapa minggu
kemudian, Ibu Hartati dan Bapak Ubed Mulyeni muncul dalam sebuah sesi foto
bersama, yang diatur oleh otoritas yang lebih tinggi. Mereka berdiri canggung
berdampingan, memaksakan senyum. Mereka mengeluarkan pernyataan bersama yang
penuh dengan kata-kata kosong seperti "sinergi", "meningkatkan
komunikasi", dan "bekerja sama untuk bangsa". Di dunia maya,
para pendukung masing-masing pihak mendeklarasikan kemenangan telak. Tidak ada
yang benar-benar berubah. Sistem yang lamban dan rumit itu terbukti lebih kuat
daripada siklus berita mana pun.
Kita kembali ke warung
kopi Pak Surya beberapa bulan kemudian. Lubang di depan warungnya masih ada,
bahkan sedikit lebih besar. Setelah lelah melapor tanpa hasil, hari itu ia
memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri. Dengan sekantong semen dan beberapa kerikil
yang ia beli dengan uangnya sendiri, ia mulai menambal lubang itu.
Di televisi kecilnya,
sebuah berita sedang tayang. Di bagian bawah layar, sebuah teks berjalan
perlahan: "Laporan Bank Sentral:
Simpanan Pemerintah Daerah di Bank Komersial Tumbuh 2,5% pada Kuartal
Ini."
Ini adalah puncak dari
seluruh cerita. Setelah semua perdebatan tentang triliunan, semua pidato agung,
semua bagan rumit dan kearifan lokal, hasil nyatanya adalah nol. Ketika negara
gagal menjalankan fungsi paling dasarnya karena kelumpuhan internal dan teater
politiknya sendiri, beban pelayanan publik itu kembali jatuh ke pundak warga
negara secara individu.
Pak Surya melihat teks
berita itu. Ia berhenti bekerja, bersandar pada sekopnya. Ia menatap hasil
tambalan amatirannya, lalu menatap kembali ke televisi. Sebuah tawa pendek dan
serak keluar dari mulutnya. Itu bukan tawa kebahagiaan, melainkan tawa pahit yang
penuh ironi. Itu adalah suara seorang warga negara yang telah menyaksikan
seluruh pertunjukan konyol ini dan akhirnya mengerti bahwa satu-satunya orang
yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Ia menggelengkan
kepalanya pelan, lalu kembali bekerja, meratakan semen di lubang yang
seharusnya tidak pernah menjadi urusannya.
.png)
Komentar
Posting Komentar