Udara di dalam ballroom sewaan sebuah hotel kelas
menengah terasa berat dan lengket. AC sentral yang meraung-raung seperti
penderita asma stadium akhir tak mampu mengalahkan panas kolektif dari puluhan
birokrat yang berkeringat di balik kemeja batik mereka. Di atas panggung, sebuah
spanduk raksasa yang dipasang sedikit miring memproklamasikan dengan
huruf-huruf kapital yang congkak: "Peluncuran
Program Akselerasi Nutrisi Holistik Integratif Menuju Indonesia Emas".
Di bawahnya, dalam ukuran lebih kecil, tertera akronim yang gagah: "PANJI EMAS".
Di sudut belakang
ruangan, Pak Agus Santoso meremas map di tangannya. Sebagai seorang pejabat
fungsional tingkat menengah dari Kantor Kesehatan Provinsi, ia adalah
perwujudan sempurna dari apa yang disebut sebagai kaum "umbi-umbian"
di jagat birokrasi. Pekerja keras di balik layar, penopang tanaman dari bawah
tanah, yang memahami detail teknis hingga ke akar-akarnya namun tak punya kuasa
untuk mengubah arah angin. Keringat membasahi kerah kemeja batiknya, bukan
hanya karena panas, tapi karena isi map yang dipegangnya: data pengadaan pangan
untuk program PANJI EMAS. Nugget dari pemasok antah-berantah dan bubur instan
dengan masa kedaluwarsa yang mencurigakan panjangnya.
Di atas panggung, di
bawah sorot lampu yang kejam, berdirilah antitesis dari Pak Agus. Bapak Direktur Jenderal Pembangunan Manusia
Unggul, Drs. Bambang Purnomo, M.Sc., Ph.D. (Perjuangan). Beliau adalah
"atasan eselon" paripurna, seorang maestro wacana yang berbicara
semata-mata dalam bahasa jargon dan konsep abstrak. Pidatonya adalah sebuah
mahakarya kekosongan makna. Kata-kata seperti "lompatan kuantum
nutrisi," "sinergitas pentahelix," dan "disrupsi
stunting" meluncur dari bibirnya dengan fasih. Tentu saja, beliau belum
pernah melihat, menyentuh, apalagi mencicipi makanan yang akan dibagikan.
Tugasnya adalah pertunjukan, bukan pelaksanaan.
"Program PANJI
EMAS ini," gema suara Dirjen Bambang dari pengeras suara, "adalah
wujud komitmen negara dalam memastikan kesejahteraan
rakyat hingga ke tingkat sel!".
Sementara para hadirin
bertepuk tangan dengan patuh, Pak Agus dengan gugup membolak-balik halaman
laporannya. Ia berhenti pada satu angka yang membuatnya mual: biaya per porsi
makanan program ini lebih murah daripada sebungkus mi instan di warung kelontong.
Ironi dramatis antara retorika muluk di panggung dan realitas suram di atas
kertas terasa seperti asam lambung yang naik ke kerongkongannya. Ini bukan
program gizi; ini adalah program ilusi gizi. Dan ia, sang umbi, hanya bisa
menyaksikan dalam diam saat benih-benih bencana ditabur dengan gegap gempita.
Perjalanan menuju Desa SukaMajuMundur adalah sebuah
metafora yang sempurna untuk program-program pemerintah itu sendiri: penuh
lubang, berkelok-kelok tanpa tujuan yang jelas, dan pada akhirnya membuat
penumpangnya mual. Nama desa itu sendiri adalah sebuah monumen ironi, cerminan
dari siklus proyek pembangunan yang datang dan pergi seperti musim,
meninggalkan janji-janji yang membusuk.
Kepala Desa, Pak
Tirtayasa, seorang pria dengan ambisi yang jauh melampaui batas desanya, telah
menyiapkan upacara penyambutan yang menyedihkan. Sebuah spanduk buatan tangan
bertuliskan "SUKSESKAN PANJI EMAS!" tergantung di antara dua batang
bambu. Mikrofon yang disewanya mengeluarkan bunyi ngiiiing setiap kali ia terlalu bersemangat. Ia menggemakan kembali
jargon-jargon Dirjen Bambang yang didengarnya di kota, berbicara tentang
"ketahanan pangan" dan "subjek pembangunan", sementara
warga desa menatapnya dengan tatapan sopan yang telah terlatih selama puluhan
tahun menghadapi birokrasi.
Di antara kerumunan, Nenek Ratmi, seorang matriark berusia
70-an dengan tatapan setajam elang, menyipitkan matanya. Beliau adalah memori
kolektif desa, seorang penyintas "program swasembada" tahun 70-an,
"program IDT" tahun 90-an, dan entah berapa banyak lagi program
dengan nama-nama hebat yang berakhir menjadi bahan tertawaan. Ia mengamati
kotak-kotak makanan itu dengan kecurigaan yang mendalam.
Ketika kotak-kotak itu
akhirnya dibagikan, isinya menjadi pusat perhatian. "Nugget Ceria
Bergizi" memiliki warna hijau yang tidak wajar, seperti lumut yang tumbuh
di planet lain, dengan tekstur kenyal seperti karet penghapus. Sementara itu, "Bubur
Protein Juara" adalah adonan kental berwarna kelabu yang beraroma samar
bahan kimia dan keputusasaan. Para warga menerimanya. Sebagian dengan rasa
syukur tulus, sebagian besar dengan kepasrahan orang-orang yang tahu betul
bahwa menolak barang "gratis" dari pemerintah hanya akan mendatangkan
masalah. Tak ada yang bertanya apa yang mereka butuhkan; mereka hanya diberi
apa yang diputuskan oleh "pemerintahan meja" di kota besar sebagai
yang terbaik untuk mereka.
"Dulu kita diberi
bibit unggul yang tidak mau tumbuh," gumam Nenek Ratmi kepada tetangganya,
"Sekarang kita diberi makanan unggul yang sepertinya sudah mati sebelum
dimasak."
Malam itu, ketenangan
Desa SukaMajuMundur terkoyak. Bukan oleh suara jangkrik atau lolongan anjing,
melainkan oleh simfoni erangan, perut yang bergolak, dan derap langkah kaki
panik menuju satu-satunya sumber daya strategis di desa: kakus umum. Program PANJI
EMAS telah teraktivasi.
Adegan-adegan sureal
terjadi serentak di seluruh desa. Seorang bapak dan anak laki-lakinya beradu
lari menuju bilik jamban keluarga, berakhir dengan negosiasi sengit di depan
pintu. Rapat karang taruna yang sedang membahas proposal 17-an bubar mendadak karena
"panggilan alam" massal. Perut-perut warga desa, yang terbiasa dengan
singkong rebus dan sambal terasi, kini memberontak dengan brutal.
Pusat krisis adalah
sebuah bangunan kecil dari batako yang dicat biru pudar di ujung desa: WC umum,
sebuah proyek membanggakan dari pemerintahan sebelumnya. Tempat itu kini
menjadi benteng yang terkepung. Antrean panjang terbentuk dalam kegelapan,
diwarnai permohonan putus asa, tawar-menawar giliran, dan pembentukan sistem
nomor antrean darurat yang ditulis di daun pisang. Di tengah penderitaan
komunal itu, ironisnya, sebuah rasa solidaritas baru yang kuat justru lahir.
Di saat yang lain
panik, Nenek Ratmi mengambil alih komando. Dengan bijaksana, ia telah
memberikan jatah nugget hijaunya kepada ayam-ayamnya (yang kini terlihat murung
dan berjalan sempoyongan). Ia menyalakan tungku dan merebus panci besar berisi
ramuan andalannya: daun jambu biji yang ditumbuk, kunyit, dan satu bahan
rahasia yang hanya diketahui oleh leluhurnya. Rumahnya sontak menjadi markas
revolusi, sebuah rumah sakit lapangan bagi para korban opresi gastronomis. Ia
terbukti jauh lebih efektif daripada seluruh jajaran Kantor Kesehatan Provinsi.
Di tengah antrean
menuju kakus, seorang pemuda yang sudah bolak-balik lima kali, berteriak dengan
sisa-sisa tenaganya, "Ini bukan bantuan, ini penjajahan perut!"
Kalimat itu menyebar
lebih cepat dari wabah itu sendiri. Dari mulut ke mulut, dari bilik ke bilik.
Para warga, yang disatukan dalam penderitaan yang sama, akhirnya menemukan
suara mereka. Malam itu, di Desa SukaMajuMundur, telah lahir sebuah revolusi.
Revolusi Lambung.
Di ruang rapat yang
dinginnya menusuk tulang, Dirjen Bambang memimpin rapat darurat dengan wajah
sekeras batu. Pak Agus duduk di salah satu kursi, pucat pasi, setelah menerima
telepon-telepon panik dan terputus-putus dari desa.
Aturan utama dalam
rapat itu sederhana: jangan pernah, dalam kondisi apa pun, menggunakan kata
"keracunan". Sebaliknya, mereka berlomba-lomba menciptakan
serangkaian eufemisme yang semakin lama semakin absurd. Insiden itu bukan
keracunan, melainkan "Insiden Penyesuaian Gastronomis". Bukan wabah
diare, tapi "Dinamika Pencernaan Komunal". Bukan makanan busuk, tapi
"Efek Detoksifikasi Proaktif". Puncaknya adalah istilah "Gejala
Akselerasi Metabolisme". Ini adalah "tindak tutur" (speech act) dalam bentuknya yang paling
menyedihkan: sebuah upaya untuk mengubah realitas dengan sihir kata-kata.
"Kita harus
mengambil langkah-langkah tegas!" seru Dirjen Bambang, menggebrak meja
dengan pelan.
Langkah-langkah
"tegas" itu, tentu saja, tidak ada hubungannya dengan mengirim dokter
atau obat-obatan. Langkah-langkah itu adalah:
1.
Membentuk "Tim Pencari Fakta dan Klarifikasi Narasi".
2.
Merancang spanduk baru dengan slogan: "PANJI EMAS:
Membangun Perut Bangsa yang Kuat dan Tahan Banting".
3.
Menyusun siaran pers yang membingkai insiden tersebut sebagai
bukti bahwa tubuh warga desa berhasil "beradaptasi" dengan nutrisi
berkualitas tinggi.
Rapat itu kemudian
berubah menjadi ajang lempar tanggung jawab yang lihai, sebuah tarian birokrasi
"pita merah" (red tape)
yang rumit. Apakah ini salah departemen logistik? Atau salah pihak pemasok?
Atau, mungkin—dan ini adalah teori favorit—ini adalah kesalahan warga desa
sendiri karena "metode penyimpanan yang tidak tepat"? Tujuan utamanya
bukan untuk menyelesaikan masalah, tetapi untuk memastikan tidak ada satu orang
pun di ruangan itu yang harus bertanggung jawab. Inilah "pemerintahan
meja" yang sedang melindungi dirinya sendiri. Mereka bersikap seolah-olah
tegas, namun tindakan mereka yang mengabaikan penderitaan manusia adalah bentuk
kebrutalan administratif yang dingin.
Tugas mustahil itu
jatuh ke pundak Pak Agus. Dirjen Bambang memerintahkannya secara pribadi untuk
menulis laporan insiden resmi. Perintahnya jelas: gunakan eufemisme yang telah
disetujui, dan bingkai hasilnya sebagai "uji stres yang sukses" terhadap
rantai distribusi program. Pak Agus kini terjepit di antara kebenaran
mengerikan yang ia ketahui dan fiksi penyelamat karier yang harus ia ciptakan.
Malam itu, ia duduk
sendirian di mejanya, di bawah dengung lampu neon yang mematikan. Inilah esensi
"pemerintahan meja" dalam bentuknya yang paling harfiah dan paling
sepi. Ia menatap halaman kosong di layar komputernya. Ia teringat wajah para warga
desa, ramuan daun jambu Nenek Ratmi, dan kepanikan massal di depan kakus umum.
Lalu ia teringat cicilan rumahnya, biaya sekolah anak-anaknya, dan senyum
dingin Dirjen Bambang yang penuh ancaman.
Dengan helaan napas
panjang yang sarat akan kekalahan, Pak Agus mulai mengetik. Cerita ini tidak
berakhir dengan isi laporannya, tetapi dengan judul yang ia ketik di halaman
sampul. Sebuah kristalisasi sempurna dari setiap jargon, eufemisme, dan
kebohongan yang telah terjadi. Sebuah monumen abadi bagi absurditas birokrasi.
"LAPORAN EVALUASI: Keberhasilan
Implementasi Uji Coba Program Detoksifikasi Komunal Proaktif dan Peningkatan
Resiliensi Gastronomis Masyarakat di Desa SukaMajuMundur."
Pak Agus menatap judul
itu sejenak. Ia lalu bangkit, mematikan lampu, dan berjalan pulang. Sistem
telah menang. Kebohongan itu kini telah resmi menjadi data. Dan di suatu
tempat, di laci seorang perencana, data palsu itu akan menjadi fondasi bagi
program gagal berikutnya. Siklus itu sempurna.
.png)
Komentar
Posting Komentar