Lupakan yoga dan
afirmasi positif. Filsuf paling pesimis dalam sejarah punya tips jitu untuk
merangkul penderitaan—dan mungkin, hanya mungkin, berhenti membenci semua orang
(termasuk diri sendiri).
Perkenalkan, Musuh Kebahagiaan No. 1 di Dunia
Dalam lanskap modern
yang dipenuhi aplikasi kencan tak berujung, promosi jabatan yang terasa hampa,
dan kecemasan samar di Minggu malam, ada satu filsuf dari abad ke-19 yang
seolah berbisik dari liang lahatnya, "Sudah kubilang." Namanya Arthur
Schopenhauer, seorang pria yang memandang kehidupan dengan antusiasme seekor
kucing yang akan dimandikan. Dikenal sebagai "filsuf pesimisme,"
Schopenhauer adalah guru anti-hero yang tidak pernah kita minta, tetapi mungkin
sangat kita butuhkan.
Lahir pada tahun 1788
di Danzig, Schopenhauer adalah produk dari keluarga pedagang kaya, namun ia
mewarisi lebih dari sekadar kekayaan ayahnya; ia juga mewarisi kecenderungan
sang ayah terhadap depresi dan kecemasan. Kehidupannya adalah sebuah studi kasus
dalam isolasi yang disengaja. Setelah berselisih dengan ibunya, Johanna—seorang
novelis yang ia anggap karyanya sebagai "sampah"—ia memilih hidup
menyendiri di Frankfurt selama 28 tahun. Rutinitas hariannya yang kaku—belajar
di pagi hari, bermain seruling, makan siang sendirian di penginapan, dan
berjalan-jalan dengan anjing pudel kesayangannya—bisa dibilang merupakan bentuk
"self-care" pamungkas bagi seseorang yang telah menyerah pada
kemanusiaan.
Kepribadiannya yang
berduri adalah legenda. Ibunya sendiri pernah menulis surat yang mengkritiknya
sebagai sosok yang "tak tertahankan dan membebani, dan sangat sulit untuk
hidup bersamanya". Schopenhauer membalas budi dengan meremehkan lingkaran
sosial ibunya dan meramalkan bahwa karyanya akan dibaca lama setelah
novel-novel ibunya dilupakan—sebuah ramalan yang, ironisnya, menjadi kenyataan.
Sifatnya yang misantropis dan misoginis sudah terdokumentasi dengan baik,
membentuk citra seorang pria yang tampaknya menyusun seluruh sistem
filosofisnya sebagai pembenaran intelektual yang rumit untuk keinginannya agar
semua orang meninggalkannya sendirian. Filosofinya bukanlah sekadar renungan
abstrak; itu adalah cerminan langsung dari pengalaman pribadinya yang penuh
gesekan. Teorinya bahwa keintiman manusia pada dasarnya menyakitkan dapat
dilihat sebagai proyeksi universal dari drama keluarganya sendiri—sebuah
"Dilema Ibu dan Anak" yang diangkat menjadi prinsip metafisik.
Mesin Penderitaan Abadi di Dalam Diri
Untuk memahami mengapa
Schopenhauer adalah santo pelindung bagi kaum yang kesepian dan kecewa, kita
harus memahami konsep intinya: "Sang Kehendak" (Die Wille). Ini bukanlah "kehendak" dalam artian pilihan
sadar, seperti memilih antara kopi atau teh. Bagi Schopenhauer, Sang Kehendak
adalah kekuatan buta, irasional, dan tak henti-hentinya yang mendorong segala
sesuatu di alam semesta—mulai dari gravitasi yang menarik benda ke bawah hingga
dorongan tak sadar kita untuk memeriksa notifikasi ponsel. Sang Kehendak adalah
sistem operasi kosmik yang mengerikan, sebuah malware eksistensial tanpa tombol "off".
Dari premis ini,
Schopenhauer menurunkan persamaannya yang brutal: semua perjuangan berasal dari
kekurangan, dan merasakan kekurangan adalah penderitaan. Oleh karena itu, hidup
adalah penderitaan. Kebahagiaan,
dalam pandangannya, bukanlah keadaan positif. Ia hanyalah negasi dari rasa
sakit—jeda singkat antara satu penderitaan dengan penderitaan berikutnya,
seperti keheningan sesaat di antara dua iklan yang mengganggu di YouTube. Kita
tidak menyadari kesehatan tubuh kita sampai kita tergores kertas; kita tidak
menyadari kebahagiaan sampai ia hilang.
Konsep ini melahirkan
salah satu gagasannya yang paling terkenal: pendulum kehidupan. Eksistensi
manusia, menurutnya, berayun tanpa henti antara dua kondisi yang sama-sama
tidak memuaskan: Rasa Sakit dan Kebosanan. Rasa sakit adalah derita
karena menginginkan sesuatu yang tidak dimiliki. Kebosanan adalah kekosongan
yang muncul setelah mendapatkannya dan menyadari bahwa hal itu tidak
memperbaiki apa pun. Seperti yang ia katakan, "Kehendak yang tidak
terpenuhi mendatangkan penderitaan, dan pencapaian hanya mendatangkan
kebosanan". Siklus ini terlihat jelas dalam kehidupan modern: rasa sakit
saat berjuang mendapatkan pekerjaan impian, diikuti oleh kebosanan rapat tanpa
akhir setelah mendapatkannya. Penderitaan karena mendambakan pasangan, diikuti
oleh kejengkelan karena kebiasaan mereka mengunyah dengan berisik.
Secara tidak sengaja,
Schopenhauer telah menulis manual pengguna untuk siksaan psikologis kehidupan
di era digital, 200 tahun sebelum era itu ada. Sang Kehendak adalah analogi
sempurna untuk algoritma media sosial dan kapitalisme digital. Platform-platform
ini dirancang untuk menciptakan rasa kekurangan yang konstan dan menyajikan
aliran keinginan baru yang tak ada habisnya—pasangan baru, gaya hidup baru,
produk baru. Pengalaman pengguna mencerminkan pendulum Schopenhauer: "rasa
sakit" dari FOMO (Fear Of Missing
Out) dan haus akan validasi (suka, match),
diikuti oleh "kebosanan" dan kehampaan setelah menggulir tanpa tujuan
selama berjam-jam atau kencan mengecewakan yang diatur secara online.
Dilema Landak: Kenapa Kumpul Bareng Teman
Rasanya Seperti Memeluk Kaktus
Puncak dari analisis
Schopenhauer tentang kesepian sosial terangkum dalam perumpamaannya yang paling
terkenal: Dilema Landak. Ceritanya sederhana namun tajam. Pada suatu hari di
musim dingin, sekelompok landak berkumpul untuk saling menghangatkan diri. Namun,
begitu mereka berdekatan, duri-duri mereka mulai saling menusuk, memaksa mereka
untuk menjauh. Terombang-ambing di antara dua kemalangan—mati kedinginan
sendirian atau kesakitan bersama—mereka akhirnya menemukan "jarak
sedang" yang bisa mereka toleransi.
Schopenhauer kemudian
tanpa basa-basi menerapkan perumpamaan ini pada masyarakat manusia. Kebutuhan
akan pergaulan, katanya, muncul dari "kekosongan dan kemonotonan
hidup," tetapi "sifat-sifat kita yang tidak menyenangkan dan
menjijikkan" mendorong kita untuk saling menjauh. "Jarak sedang"
yang kita temukan adalah sopan santun
dan tata krama. Ini adalah kontrak sosial yang memungkinkan kita
mendapatkan kehangatan yang "hanya terpuaskan secara tidak sempurna,"
tetapi sebagai gantinya, kita tidak akan tertusuk duri.
Skenario landak modern
ini terjadi di mana-mana:
●
Di Kantor: Basa-basi di dekat
mesin kopi, etiket korporat yang kaku, dan obrolan ringan yang diatur dengan
cermat adalah mekanisme untuk mengekstrak kehangatan kolaboratif tanpa ada yang
tertusuk oleh email pasif-agresif rekan kerja.
●
Di Aplikasi Kencan: Ini adalah
"jarak sedang" yang paling mutakhir. Pasokan kehangatan potensial
yang tak terbatas, tetapi dimediasi melalui layar, ghosting, dan profil yang dikurasi dengan hati-hati untuk menjaga
keintiman yang tulus (dan berduri) tetap berada di kejauhan.
●
Di Media Sosial: Kita
"berkumpul" secara online untuk mencari koneksi, tetapi akhirnya
tertusuk oleh duri perbandingan, iri hati, dan perdebatan politik. Tombol
"mute" dan "unfollow" adalah alat modern kita untuk
membangun kembali jarak yang aman.
Apa yang tampak
sebagai solusi—sopan santun—sebenarnya adalah kompromi yang tragis. Ini
bukanlah jalan tengah yang membahagiakan, melainkan pelembagaan kesepian.
Dengan memprioritaskan keamanan di atas keintiman sejati, kita secara kolektif
setuju untuk menerima tingkat kehangatan yang rendah dan kronis (yaitu,
kesepian) demi menghindari rasa sakit yang akut. Bagi Schopenhauer, sopan
santun bukanlah tentang kebaikan; ini adalah mekanisme pertahanan terhadap
sifat dasar manusia lain yang pada dasarnya menyebalkan.
Solitude vs. Kesepian: Seni Menjadi Sendirian
Tanpa Merasa Ngenes
Jika hidup bersama
orang lain adalah sebuah dilema yang tak terpecahkan, lalu apa jalan keluarnya?
Schopenhauer menawarkan sebuah "pro-tip" di akhir perumpamaannya:
landak yang memiliki "kehangatan internal yang cukup" lebih memilih untuk
tetap di luar, tidak menusuk siapa pun dan tidak ditusuk oleh siapa pun. Inilah
cita-cita Schopenhauer: individu jenius yang mandiri.
Di sinilah ia membuat
perbedaan krusial antara dua kondisi yang sering disamakan:
●
Kesepian (Loneliness): Perasaan sakit karena
keinginan yang tidak terpenuhi, perasaan hampa, menatap sebuah lubang. Ini
adalah nasib landak biasa yang kekurangan kehangatan internal.
●
Solitude: Keadaan yang dipilih
untuk menarik diri ke dalam diri sendiri demi introspeksi, kontemplasi, dan
kreativitas. Ini adalah suite mewah
dalam eksistensi, sebuah gaya hidup aspirasional.
Schopenhauer secara
efektif mengubah status penyendiri dari pecundang sosial menjadi seorang elit.
Ia menyatakan, "Seseorang hanya bisa menjadi dirinya sendiri selama ia
sendirian," dan oleh karena itu, "siapa pun yang tidak mencintai solitude, juga tidak mencintai
kebebasan". Tingkat kecerdasan yang tinggi, menurutnya, cenderung membuat
seseorang menjadi tidak sosial, karena berurusan dengan mediokritas orang lain
yang berduri itu melelahkan. Solitude
bukanlah sebuah kekurangan; itu adalah fitur dari kecemerlangan.
Namun,
"solusi" ini mengungkap bias intelektual dan kelas yang kental dalam
pemikiran Schopenhauer. Kemampuan untuk "memilih" solitude dan menikmatinya adalah sebuah
kemewahan. Schopenhauer dapat menjalani kehidupan sebagai seorang sarjana
penyendiri karena ia mewarisi kekayaan yang signifikan, yang membebaskannya
dari kebutuhan akan pekerjaan konvensional atau jaringan sosial untuk bertahan
hidup. Individu ideal yang ia gambarkan adalah seseorang dengan "sumber
daya batin yang kaya" dan "kapasitas besar"—dengan kata lain,
seseorang seperti dirinya. Ini secara implisit menunjukkan bahwa mereka yang
menderita karena kesepian hanyalah landak-landak malang yang tidak memiliki
"kekayaan" intelektual atau spiritual yang diperlukan. Nasihatnya,
jika dipreteli, menjadi sangat elitis: "Bosan merasa kesepian? Jadilah
jenius kaya yang mandiri! Kenapa tidak terpikirkan olehmu?"
Jadi, Apa Solusinya? (Spoiler: Tidak Ada yang
Menyenangkan)
Pada akhirnya,
Schopenhauer menawarkan solusi pamungkas untuk menghentikan mesin penderitaan
Sang Kehendak: asketisme. Satu-satunya cara untuk benar-benar mengakhiri
penderitaan adalah dengan berhenti menginginkan apa pun. Ini melibatkan
penyangkalan, pengunduran diri, dan penolakan terhadap kehendak untuk hidup itu
sendiri. Ini adalah program self-help
paling ekstrem dan tanpa kegembiraan yang pernah dirancang.
Tentu saja, ada ironi
besar di sini. Schopenhauer sendiri, seorang pria yang menikmati makanan enak,
perselingkuhan, dan status sosialnya, tidak pernah benar-benar menjadi seorang
asketis. Ia dengan sempurna mendiagnosis penyakitnya tetapi tidak tahan dengan
obatnya. Dan di sinilah letak relevansinya yang abadi.
Penghiburan suram yang
ditawarkan Schopenhauer bukanlah sebuah solusi, melainkan sebuah perubahan
perspektif. Hidup adalah sebuah tragikomedi. Kita semua adalah landak yang
didorong oleh mesin penderitaan internal yang tak kenal lelah. Tidak ada jalan
keluar menuju kebahagiaan abadi. Pembebasan sejati yang ia tawarkan bukanlah
kebebasan dari penderitaan, tetapi
kebebasan karena mengetahui bahwa kesepian dan ketidakpuasan bukanlah kegagalan
pribadi. Itu adalah fitur fundamental alam semesta. Seseorang tidak rusak;
sistemnyalah yang rusak.
Dalam budaya yang
terobsesi dengan positivitas beracun, yang membingkai ketidakbahagiaan sebagai
kegagalan pribadi yang harus "diperbaiki," pesimisme Schopenhauer
secara paradoks terasa membebaskan. Merasa sengsara bukanlah tanda bahwa
seseorang menjalani hidup dengan "salah"; itu adalah tanda bahwa
seseorang sedang memperhatikan. Jika kita semua adalah sesama penderita dalam
lelucon kosmik yang absurd ini, setidaknya kita bisa berbagi tawa tentang hal
itu—tentu saja, dari jarak sedang yang aman.
.png)
Komentar
Posting Komentar