Langsung ke konten utama

Cinta Seorang Miskin


Ketika Aku melihatmu di layar kaca

Aku....

Mencintaimu...

Manis Senyummu Mengalir Dikepalaku

Tatapan Mata Gadis Itu

Berjalan dalam sel-sel otakku

Hingga menghalangi tubuhku

Untuk Terlelap Di atas Kasur yang dipenuhi Kutu


Namun....

Kosan Kecil Ini Menyadarkan semuanya

Aku ini siapa?

Aku ini apa?

Aku ini punya apa?

Aku ini milik siapa?

Aku ini hanya makhluk kelas bawah!


Yang setiap hari memakan iri dengki

Yang setiap hari memakan kelaparan

Yang setiap hari memakan kehausan

Yang setiap hari memakan kemalangan

Aku ingin bertanya padanya!

Apakah dia mencintaiku?

Apakah dia memikirkanku?

Dan yang paling penting....


Apakah dia sadar akan kehadiranku?

Apakah dia sadar bahwa aku dilahirkan 

di dunia yang sama dengannya

Dengan tuhan yang sama

Dengan Negara yang sama

Dengan lubang hidung yang sama

Dengan cara berkedip yang sama

Apakah dia menyadarinya?


Hanya nasib saja yang berbeda

Dia cantik dan terlahir 

dengan emas di sebelahnya

Sedangkan Aku...

hanya orang MISKIN yang terlahir 

dengan batu krikil di sebalahku


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosedur Tetap Patah Hati di Jalan Raya

Bagi Dodi, mahasiswa tingkat akhir yang skripsinya lebih banyak revisi daripada isi, panggilan aksi demonstrasi datang bukan seperti bisikan nurani, melainkan notifikasi grup WhatsApp yang lebih mendesak dari tagihan pinjol. Isinya singkat: "Besok, kita geruduk Gedung Perwakilan Semesta (GPS)! Dress code: Almamater dan Amarah!" Namun, di kantin kampus yang riuh oleh suara sendok beradu dengan mangkuk mi instan, amarah adalah komoditas terakhir yang dipikirkan. Yang pertama dan utama adalah konten. "Gue udah siapin poster," kata Bimo sambil menyodorkan ponselnya. Di layar, terpampang desain kanvas digital bertuliskan, "Janjimu Lebih Manis dari Kopi Saset, Tapi Pahitnya Melebihi Realita". "Terlalu curhat, Bim," sahut Dodi, "Nanti dikira demo nuntut mantan balikan." "Justru itu kekuatannya!" Bimo berapi-api. "Politik itu personal, Dod. Patah hati karena janji palsu politisi itu sama sakitnya kayak di-ghosting gebetan...

Manifesto Perut Merdeka

  Udara di dalam ballroom sewaan sebuah hotel kelas menengah terasa berat dan lengket. AC sentral yang meraung-raung seperti penderita asma stadium akhir tak mampu mengalahkan panas kolektif dari puluhan birokrat yang berkeringat di balik kemeja batik mereka. Di atas panggung, sebuah spanduk raksasa yang dipasang sedikit miring memproklamasikan dengan huruf-huruf kapital yang congkak: "Peluncuran Program Akselerasi Nutrisi Holistik Integratif Menuju Indonesia Emas" . Di bawahnya, dalam ukuran lebih kecil, tertera akronim yang gagah: "PANJI EMAS" . Di sudut belakang ruangan, Pak Agus Santoso meremas map di tangannya. Sebagai seorang pejabat fungsional tingkat menengah dari Kantor Kesehatan Provinsi, ia adalah perwujudan sempurna dari apa yang disebut sebagai kaum "umbi-umbian" di jagat birokrasi. Pekerja keras di balik layar, penopang tanaman dari bawah tanah, yang memahami detail teknis hingga ke akar-akarnya namun tak punya kuasa untuk mengubah arah ...

Kisah Triliunan yang Tertidur di Bawah Bantal Birokrasi

Di ruang konferensi pers di Kementerian Keuangan—atau lebih tepatnya, Kementerian Peti Besi—memiliki suhu yang diatur sedemikian rupa sehingga lebih cocok untuk mengawetkan spesimen langka ketimbang manusia. Udara terasa tipis, dingin, dan steril. Para jurnalis yang duduk di kursi-kursi minimalis tampak seperti patung-patung lilin yang mengenakan batik; tegang, diam, dan seolah takut embusan napas mereka akan mengganggu keseimbangan fiskal negara. Di tengah panggung, di balik podium yang terbuat dari material yang tampak seperti harapan yang membeku, berdirilah Ibu Hartati Prawiro, Sang Menteri Peti Besi. Wanita berusia akhir 50-an itu memiliki postur tubuh yang begitu sempurna hingga orang curiga tulang punggungnya diganti dengan baja struktural. Pakaiannya berwarna abu-abu monokrom, tanpa satu pun lipatan yang tidak disengaja. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, dan lensanya seolah tidak berfungsi untuk memperbesar penglihatannya, melainkan untuk memperbesar kekecewa...