Lupakan yoga dan afirmasi positif. Filsuf paling pesimis dalam sejarah punya tips jitu untuk merangkul penderitaan—dan mungkin, hanya mungkin, berhenti membenci semua orang (termasuk diri sendiri). Perkenalkan, Musuh Kebahagiaan No. 1 di Dunia Dalam lanskap modern yang dipenuhi aplikasi kencan tak berujung, promosi jabatan yang terasa hampa, dan kecemasan samar di Minggu malam, ada satu filsuf dari abad ke-19 yang seolah berbisik dari liang lahatnya, "Sudah kubilang." Namanya Arthur Schopenhauer, seorang pria yang memandang kehidupan dengan antusiasme seekor kucing yang akan dimandikan. Dikenal sebagai "filsuf pesimisme," Schopenhauer adalah guru anti-hero yang tidak pernah kita minta, tetapi mungkin sangat kita butuhkan. Lahir pada tahun 1788 di Danzig, Schopenhauer adalah produk dari keluarga pedagang kaya, namun ia mewarisi lebih dari sekadar kekayaan ayahnya; ia juga mewarisi kecenderungan sang ayah terhadap depresi dan kecemasan. Kehidupannya adalah s...
Udara di dalam ballroom sewaan sebuah hotel kelas menengah terasa berat dan lengket. AC sentral yang meraung-raung seperti penderita asma stadium akhir tak mampu mengalahkan panas kolektif dari puluhan birokrat yang berkeringat di balik kemeja batik mereka. Di atas panggung, sebuah spanduk raksasa yang dipasang sedikit miring memproklamasikan dengan huruf-huruf kapital yang congkak: "Peluncuran Program Akselerasi Nutrisi Holistik Integratif Menuju Indonesia Emas" . Di bawahnya, dalam ukuran lebih kecil, tertera akronim yang gagah: "PANJI EMAS" . Di sudut belakang ruangan, Pak Agus Santoso meremas map di tangannya. Sebagai seorang pejabat fungsional tingkat menengah dari Kantor Kesehatan Provinsi, ia adalah perwujudan sempurna dari apa yang disebut sebagai kaum "umbi-umbian" di jagat birokrasi. Pekerja keras di balik layar, penopang tanaman dari bawah tanah, yang memahami detail teknis hingga ke akar-akarnya namun tak punya kuasa untuk mengubah arah ...