Langsung ke konten utama

Postingan

Dilema Landak dan Derita Lainnya: Curhatan Filsuf yang Benci Pesta

  Lupakan yoga dan afirmasi positif. Filsuf paling pesimis dalam sejarah punya tips jitu untuk merangkul penderitaan—dan mungkin, hanya mungkin, berhenti membenci semua orang (termasuk diri sendiri). Perkenalkan, Musuh Kebahagiaan No. 1 di Dunia Dalam lanskap modern yang dipenuhi aplikasi kencan tak berujung, promosi jabatan yang terasa hampa, dan kecemasan samar di Minggu malam, ada satu filsuf dari abad ke-19 yang seolah berbisik dari liang lahatnya, "Sudah kubilang." Namanya Arthur Schopenhauer, seorang pria yang memandang kehidupan dengan antusiasme seekor kucing yang akan dimandikan. Dikenal sebagai "filsuf pesimisme," Schopenhauer adalah guru anti-hero yang tidak pernah kita minta, tetapi mungkin sangat kita butuhkan. Lahir pada tahun 1788 di Danzig, Schopenhauer adalah produk dari keluarga pedagang kaya, namun ia mewarisi lebih dari sekadar kekayaan ayahnya; ia juga mewarisi kecenderungan sang ayah terhadap depresi dan kecemasan. Kehidupannya adalah s...
Postingan terbaru

Manifesto Perut Merdeka

  Udara di dalam ballroom sewaan sebuah hotel kelas menengah terasa berat dan lengket. AC sentral yang meraung-raung seperti penderita asma stadium akhir tak mampu mengalahkan panas kolektif dari puluhan birokrat yang berkeringat di balik kemeja batik mereka. Di atas panggung, sebuah spanduk raksasa yang dipasang sedikit miring memproklamasikan dengan huruf-huruf kapital yang congkak: "Peluncuran Program Akselerasi Nutrisi Holistik Integratif Menuju Indonesia Emas" . Di bawahnya, dalam ukuran lebih kecil, tertera akronim yang gagah: "PANJI EMAS" . Di sudut belakang ruangan, Pak Agus Santoso meremas map di tangannya. Sebagai seorang pejabat fungsional tingkat menengah dari Kantor Kesehatan Provinsi, ia adalah perwujudan sempurna dari apa yang disebut sebagai kaum "umbi-umbian" di jagat birokrasi. Pekerja keras di balik layar, penopang tanaman dari bawah tanah, yang memahami detail teknis hingga ke akar-akarnya namun tak punya kuasa untuk mengubah arah ...

Kisah Triliunan yang Tertidur di Bawah Bantal Birokrasi

Di ruang konferensi pers di Kementerian Keuangan—atau lebih tepatnya, Kementerian Peti Besi—memiliki suhu yang diatur sedemikian rupa sehingga lebih cocok untuk mengawetkan spesimen langka ketimbang manusia. Udara terasa tipis, dingin, dan steril. Para jurnalis yang duduk di kursi-kursi minimalis tampak seperti patung-patung lilin yang mengenakan batik; tegang, diam, dan seolah takut embusan napas mereka akan mengganggu keseimbangan fiskal negara. Di tengah panggung, di balik podium yang terbuat dari material yang tampak seperti harapan yang membeku, berdirilah Ibu Hartati Prawiro, Sang Menteri Peti Besi. Wanita berusia akhir 50-an itu memiliki postur tubuh yang begitu sempurna hingga orang curiga tulang punggungnya diganti dengan baja struktural. Pakaiannya berwarna abu-abu monokrom, tanpa satu pun lipatan yang tidak disengaja. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, dan lensanya seolah tidak berfungsi untuk memperbesar penglihatannya, melainkan untuk memperbesar kekecewa...

TEPUK TANGAN UNTUK CICILAN PANCI

  Aula Harapan Abadi di Kantor Urusan Pernikahan (KUP) Kecamatan Asri Sentosa adalah tempat di mana romantisme menemui ajalnya, digantikan oleh birokrasi. Dindingnya berwarna krem kusam, warna yang seolah dipilih agar tidak menyinggung siapapun dan tidak menginspirasi siapa pun. Kursi-kursi plastik yang disambung menjadi satu barisan terasa dingin dan kaku, memaksa semua pasangan calon pengantin duduk dengan postur canggung yang sama. Di pojok ruangan, sebuah tanaman plastik yang daunnya sudah agak lunglai menyerah pada debu, sementara aroma kamper dari toilet bercampur dengan pengharum ruangan beraroma pinus yang samar-samar. Di tengah lautan kecanggungan itu, duduklah Bima dan Ratih. Bima, seorang desainer grafis, tidak sedang merenungkan janji suci sehidup semati. Pikirannya sedang sibuk melakukan kalkulasi akrobatik: apakah pembayaran dari klien agensi iklan akan cair sebelum tanggal jatuh tempo DP sewa rumah? Matanya menatap kosong ke depan, tapi otaknya sedang menggambar ...